Feri Pribadi webdevelopers AKU Belajar

29 Januari 2013

TTM: Bye Bye Commitment!

TTM: Bye Bye Commitment!


Kategori : ARTIKEL, Remaja & Cinta 


TTM seolah-olah menemukan definisinya. Konsep pertemanan dengan dibumbui sedikit getar-getar asmara tapi bukan pacaran, itulah TTM. Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, dari Klinik Empati dan RS Cengkareng, batasan antara TTM dan pacaran sebenarnya ada pada kata komitmen. “Dalam TTM, si pasangan tidak memiliki komitmen untuk menjalin hubungan sebagai pacar. Padahal hubungan ini melibatkan passion yang sebenarnya ada dalam cinta.”
Lebih lanjut, Verauli mengutip konsep Steinberg, psikolog dari Universitas Yale, soal cinta. Steinberg mengurai cinta dalam tiga komponen, yaitu intimacy (kedekatan), passion (gairah), dan commitment (komitmen).
Dalam intimacy, pasangan saling terbuka untuk bisa saling mengenal. Dari sana kemudian tercipta rasa aman dan nyaman terhadap diri masing-masing. Dalam passion, ada gairah dan ketertarikan yang biasanya menjurus pada seksualitas. Sementara dalam komitmen, ada keinginan saling memiliki dan ingin tahu ke mana arah hubungan selanjutnya.
Kalau ketiganya ada, lengkaplah true love-nya. Kalau hanya ada intimacy, itu disebut teman biasa. Tapi kalau ada intimacy dan passion, itulah yang namanya TTM tadi.
MENGISI KEKOSONGAN
Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis, kebutuhan akan rasa aman dan terlindungi, menjadi bagian dari orang lain, dan dukungan untuk bisa meningkatkkan rasa peraya diri. Di zaman sekarang, ketika kita banyak disibukkan dengan pekerjaan, kadang kita tak sempat lagi bersosialisasi. Muncullah kekosongan emosional dalam diri kita. Otomatis, kebutuhan-kebutuhan tadi pun tak bisa dipenuhi.
Ketika kemudian kita bertemu seseorang yang kita pikir bisa mengisi kekosongan tadi, mulailah kita dekat dan akhirnya jalan bareng. Tapi, yang namanya cinta, selain memerlukan tiga komponen tadi (intimacy, passion dan commitment) juga butuh faktor-faktor seperti right person, right time dan right place. Ketika salah satu dari ketiga faktor itu tidak terpenuhi, makanya jadilah TTM.
BERAKHIR KAPAN PUN
Baik pertemanan atau pacaran, sebenarnya memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama bisa mengurangi perasaan kesendirian, meningkatkan rasa aman dan rasa bahagia. TTM yang posisinya berada di tengah, sudah pasti mencakup kesamaan tersebut. Di sinilah enaknya TTM.
Tapi, dalam TTM tidak ada komitmen berpacaran. Itu artinya, tidak ada tanggung jawab atau kewajiban untuk saling menjaga perasaan atau hubungan. Itu sebabnya, kita tak bisa berharap Si TTM menelepon tiap hari seperti yang kita inginkan. Kita tak bisa mengharap Si TTM tidak berselingkuh, karena kita tidak memiliki komitmen.
Karena tidak ada komitmen, hubungan TTM juga bisa berakhir kapan saja. Di saat kita sedang merasa dekat-dekatnya dengan Si TTM, tiba-tiba hubungan harus berakhir. Pasti sakit dong rasanya, karena harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan.
Itulah risiko hidup di zaman serba instan yang segalanya bisa didapat dengan mudah. Ambang kesabaran manusia menjadi rendah. Karena pacaran sulit, terutama dalam menjaga hubungan dan komitmen, orang yang terbiasa instan akan memilih TTM. Seandainya ada masalah, mereka tinggal pergi dan mencari TTM baru. Orang seperti ini pastinya akan sulit mencari pasangan sejati. Secara emosional, ia juga dangkal karena tidak pernah menjalin hubungan yang dalam.
PERSELINGKUHAN TERSELUBUNG
Buat mereka yang sudah berpacaran tapi tetap ber-TTM, Verauli menyebut sebagai perselingkuhan terselubung. Unsur infidelity (ketidaksetiaan) berperan besar. Dengan mengatasnamakan pertemanan, unsur perselingkuhan terbalut. Perasaan bersalah pun jadi lebih kecil. Karena, ketika ditanya pacar, pasti jawabannya hanya teman. Kalau teman, tapi kok mesra?
Verauli menyarankan untuk berhati-hati dengan orang-orang seperti ini. Orang yang baru selingkuh satu kali, itu bisa dikatakan kepleset. Tapi orang yang selingkuh berkali-kali, itu namanya pola dan bisa menjadi habit atau kebiasaan. Sampai tua cenderung akan selingkuh.
Jadi, mau ber-TTM atau tidak berpulang kembali pada Anda yang menjalani. Kalau merasa nyaman, silakan terus. Tapi ingat, karena tidak ada komitmen, ya tidak bisa diharapkan.


Memahami Tangisan Bayi

Memahami Tangisan Bayi



 

Tak usah panik jika bayi menangis. Anda dapat mengatasinya dengan mudah jika tahu sebabnya. Jangan pula berpikir ia anak yang rewel. Menangis adalah cara si kecil berkomunikasi dengan Anda.
ARTI TANGISAN BAYI 0-3 BULAN
Pada umumnya, para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar. Ingatlah, menangis tak selalu berarti lapar. Arti tangisan berbeda-beda, masing-masing merupakan tanda komunikasi yang jelas sebagai ungkapan pesan kepada Anda tentang apa yang ia butuhkan. Gerakan tubuh yang menyertai tangis dapat membantu Anda lebih memahaminya. Makin keras dan makin lama tangis, maka makin kuat kebutuhannya.
* “Saya lapar”
Tangis lapar biasanya berpola. Ia menangis, lalu stop untuk bernapas, menangis lagi, lalu stop untuk bernapas. Biasanya diselingi gerakan mengisap. Jika sangat lapar, tangisnya lebih keras dan terus-menerus.
Jika ia masih menangis saat disusui, coba lihat hidungnya. Ada kemungkinan bibir atasnya menutupi hidung dan ia sulit bernapas sehingga menangis.
* “Saya bosan”
Tangis bosan biasanya pendek, diikuti keheningan, lalu tangis pendek lagi. Tangisnya akan berlanjut jika Anda tak segera mendekatinya dan mengajaknya bermain.
* “Saya lelah”
Tangis lelah berupa rengekan. Ia mungkin akan menggosok-gosok wajahnya dan memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Sebuah usapan atau gerakan berirama cukup menenangkan ia dan bisa membuatnya tidur.
* “Saya kesepian”
Beberapa bayi butuh perhatian lebih dibanding bayi lainnya dan mulai merasa kesepian ketika ia ditinggalkan sendiri untuk waktu lama. Tangis kesepian berupa rengekan setiap menit dan kadang diikuti air mata. Emongan yang lama membuatnya senang.
* “Saya tak nyaman.”
Biasanya suara tangis melengking dan jelas, napas agak tersendat, lalu napasnya menjadi cepat diikuti tangis lain. Mungkin lengannya terjepit, pantatnya kotor, tertusuk peniti, atau mungkin ia kedinginan/kepanasan.
* “Saya kolik”
Bayi sering menangis karena kolik atau kejang/kram usus. Hingga kini belum diketahui penyebab kolik. Ada dugaan, sistem pencernaan bayi belum sempurna sehingga timbul gangguan pencernaan. Kolik dialami pada 3 bulan pertama kehidupan dan biasanya terjadi sore hari menjelang malam.
Tangis kolik sangat keras disertai jeritan dan episodik: suatu saat timbul, suatu saat hilang, tapi hanya satu atau dua menit, lalu menangis lagi. Biasanya diikuti gerakan tangan ke arah perut, badan mengencang, dan kadang disertai buang angin. Menggosok perutnya dengan minyak telon dapat membantu menenangkannya.
* “Saya sakit”
Rasa sakit diungkapkan dengan tangis melengking, keras, diselingi rintihan serta rengekan. Tangis bayi yang perutnya mulas lebih melengking dan lebih ribut. Hubungi dokter anak Anda jika ia menunjukkan gejala-gejala sakit tertentu.
ARTI TANGISAN BAYI 4-12 BULAN
Mulai usia 3-4 bulan Anda akan melihat perubahan nyata pada si kecil. Tangisnya mulai berkurang karena ia sekarang mulai tahu apa yang ada di sekelilingnya. Ia mau mendengarkan dan tertarik terhadap segala sesuatu di sekelilingnya.
* “Saya lapar”
Rasa lapar masih nyata menyebabkan ia menangis. Ia mulai mengonsumsi makanan padat. Ia pun lebih aktif dibanding sebelumnya dan karenanya cepat lelah. Bayi yang aktif kebutuhan makannya lebih banyak. Makanan kecil dan minuman dapat memulihkan energinya.
* “Saya tumbuh gigi”
Biasanya bayi mulai tumbuh gigi usia 6 bulan ke atas. Biasanya tangisnya muncul pada sore hari, kuat seperti tangis sakit karena ada rasa nyeri.
* “Saya cemas”
Mulai usia 7 atau 8 bulan kebanyakan bayi menangis karena cemas, terutama saat ia “kehilangan” Anda. Baginya, Anda adalah dasar dari rasa amannya. Ia akan tenang “menjelajahi dunia” selama Anda berada dalam pandangannya. Jika Anda meninggalkannya atau ia tak melihat Anda, meski Anda ada di dekatnya, ia akan menangis.
* “Saya ingin diperhatikan”
Lewat usia 6 bulan, ia mulai mempelajari, menangis ialah suatu alat untuk memperoleh perhatian. Bayi usia 7 atau 8 bulan cukup menyadari, dengan menangis Anda akan segera berlari mendekatinya. Lebih baik Anda tak buru-buru menggendongnya, tapi hiburlah atau ajak main.
* “Saya sakit”
Rasa sakit yang ia alami lebih karena benturan-benturan pada fisiknya saat ia bergerak aktif. Meski tidak luka, tetap memungkinkan ia menangis. Mungkin lebih karena rasa kaget. Mengalihkan perhatiannya dapat menolong ia melupakan sakitnya dengan cepat.
*”Saya sangat lelah”
Lelah berlebihan ditunjukkan oleh rengekan, lekas marah, dan akhirnya menangis. Menjelang akhir tahun pertamanya, ia mempunyai kehidupan yang penuh dengan pengalaman baru, yang membuatnya kehabisan energi sebelum ia kehilangan semangat. Ia butuh pertolongan Anda untuk membuatnya cukup rileks seperti tidur.
*”Saya marah”
Mulai usia 9 bulan, dalam dirinya mulai berkembang konsep, “Saya ingin”, dan kemarahan merupakan caranya untuk menunjukkan rasa frustrasinya ketika sesuatu tak diperoleh sesuai keinginannya. Seolah ia dibuat jengkel oleh batasan-batasan, beberapa di antaranya merupakan rintangan fisik seperti kursi tinggi dan kursi dorong, yang terasa menghalanginya saat ia ingin berkembang lebih leluasa.
Ia juga terhalang oleh kemampuan komunikasinya yang masih baru. Karena tak bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata, ia akan menggenggam erat kepalan tangannya dan pipinya memerah, untuk menunjukkan pada Anda bahwa ia tak puas dengan situasi yang ada.

Sumber : kompas.com